Aku pernah menjadi satu diantara berjuta mereka
Merasa tersesat dan hilang arah
Bahkan hingga hari ini aku masih menikmati, merasainya
Aku ingin menangis histeris, meraung dan meratap masa
Ketika memikirkan bagaimana masa kan tetap berjalan melaju tanpa tunggu
Berbagai tanya dan kecemasan, beragam spekulasi dan perdebatan batin
Berpadu mengaduk isi hati dan pikiran tanpa perasaan, tanpa kesian
Aku takut, aku cemas
Aku mulai merutuki diri
Mulai mempertanyai pada hati
Apa yang telah aku lakukan?
Jalan apa yang tengah kulalui?
Bagaimana jika jalan ini adalah jalan pembawaku ke panasnya neraka?
Akh, bodohnya aku. Harusnya aku sadar, aku manusia yang tak kan semudah itu masuk surga
Aku sadar,
Aku bukanlah manusia suci,
Bukan pula yang lahir dari teturunan Wali,
Aku hanya satu dari sekian ribuan juta yang mengaku umat Nabi
Yang megaku beriman pada Ilahi...
Pastilah, aku kan merasai panasnya neraka yang nanti kan membakar daging sampai ke tulang belulang
Hei,,,
Mengapa aku berucap seperti itu?
Mengapa aku merasa takut kalau itu pasti?
Apa ia, aku takut mati?
Lalu kenapa?
Bukankah katanya aku beriman?
Orang beriman, harusnya tak takut mati!
Atau aku hanya mengaku-ngaku saja?
Munafik? Mungkin benar...
Sebuah tulisan di sebuah pagi (08 Juli 2014)
Ernawati

Komentar
Posting Komentar