Betapa nikmatnya makan malam hari ini, Alhamdulillah. Masakan ibu selalu menjadi makanan terbaik sepanjang hidupku. Masakan ibu adalah menu ajaib yang selalu menggetarkan lidah lalu kemudian membuat perutku gendut kekenyangan. Jika ditanya makasan siapa yang paling enak di dunia ini, tentulah bagi lidahku yang telah terawat dari kecil ini, masakan ibu yang paling terlezat di muka bumi. Bagaimana tidak, pemilihan bahan, racikan bumbu hingga proses memasak semua dilakukan dengan penuh cinta.
Cukuplah malam ini, lapar digantikan kenyang oleh sepiring nasi dan dua ekor kepiting gulai yang disayur singkong dan dimasak dengan kuah santan. Paduan kuah pedas berlemak berbaur jadi satu dengan rasa manis dan asin kepiting laut. Sungguh perpaduan yang pas saat perut tengah lapar hingga lidah tak mampu menolaknya.
Sementara diriku tengah menikmati makan malam, adik perempuanku yang baru berumur 4 tahun itu duduk bersama di meja makan. Dihadapannya tersaji sepotong singkong rebus dalam sebuah piring kecil, tanpa tambahan rasa sekaligus tanpa warna. Benar-benar hanya sepotong singkong rebus yang hambar bagiku.
Namun siapa sangka, anak kecil seusia adikku yang biasanya tidak doyan dengan makanan hambar seperti ini malah melahapnya dengan penuh semangat. Sambil memegang potongan singkong rebus yang putih mulus itu dia melontarkan kalimat-kalimat yang seketika membuatku ingin tergelak. Antara menahan tawa geli dan lucu, berpikir, lalu kemudian berhasil mengambil makna dari tingkah laku polosnya itu.
"Ehmmm, enak... rasa ayam goreng..." begitulah celoteh adik di meja makan sambil terus melahap singkong rebusnya dengan wajah penuh semangat seolah-olah apa yang dia makan benar-benar ayam goreng sungguhan. Mendengar kalimat itu, aku menghentikan suapan beberapa detik lalu memandanginya yang tetap tak menghiraukanku malah fokus menikmati menu singkong rebus tanpa rasa tersebut.
Aku geli rasanya ingin tertawa saja, namun kutahan. Kutatap lekat-lekat adik lalu kutanyakan padanya. "Dik, itu ayam goreng yah?" tanyaku pura-pura bodoh.
"Ia kak, ini ayam gorengku rasanya enak sekali. Dagingnya pun empuk" jawabnya setengah terkekeh sambil memamerkan singkong rebus yang dipegangnya. Mimik wajahnya jelas tahu, bahwa aku sedang menahan geli hingga kami berdua terkekeh bersama. Entah menertawakan imajinasi adikku yang begitu polos atau menertawakan kebodohan kami berdua. Apalah itu tak penting dibandingkan suatu makna yang kuambil dari kejadian ini.
Yah jelas sekali bahwa kebahagiaan hidup itu lahir dari cara kita berpikir dan menjalani kehidupan itu sendiri. Jika kita merasa hidup kita begitu berat dan penuh derita maka berat dan derita lah yang kita hadapi sehari-hari. Namun jika kita rasa hidup ini indah dan penuh kebahagiaan, maka perasaan bahagia dan syukurlah yang akan kita terima serta rasakan setiap harinya, walaupun itu hanya untuk hal-hal kecil yang remeh-temeh.
Yah, jelas sekali bahwa imajinasi polos adikku itu telah membawanya pada rasa syukur dan akhirnya menerima rezeki yang Tuhan berikan dalam kehidupan ini, meski hanya lewat sepotong singkong rebus yang hambar rasa. Mungkin adikku itu tidak sadar bahwa sesungguhnya dia telah menikmati hidup yang biasa ini dengan cara yang luar biasa melalui permainan di alam pikirannya.
Sobat, hidup ini memang tak selalu indah, hidup pun juga tak mudah, makanya kita harus selalu pandai menjadikan hidup ini indah lalu melakukan hal-hal untuk menaklukkan ketidakmudahan itu. Bermula dari pikiran lalu berlanjut pada tindakan. Memang sama halnya dengan hidup yang tak selalu indah, suasana hatipun tak selalu baik, pikiran tak selalu positif. Maka, kita yang menjalaninya mesti pandai-pandai menjaga suasana hati tetap baik dan berusaha selalu berpikir positif agar hidup yang katanya rumit ini bisa kita nikmati dengan begitu sederhananya. Lagi-lagi memang tak mudah, namun percayalah "Tak ada yang tak BISA"
Writed by: Ernawati
Makan Malam (Minggu, 01 Juni 2014)
Cukuplah malam ini, lapar digantikan kenyang oleh sepiring nasi dan dua ekor kepiting gulai yang disayur singkong dan dimasak dengan kuah santan. Paduan kuah pedas berlemak berbaur jadi satu dengan rasa manis dan asin kepiting laut. Sungguh perpaduan yang pas saat perut tengah lapar hingga lidah tak mampu menolaknya.
Sementara diriku tengah menikmati makan malam, adik perempuanku yang baru berumur 4 tahun itu duduk bersama di meja makan. Dihadapannya tersaji sepotong singkong rebus dalam sebuah piring kecil, tanpa tambahan rasa sekaligus tanpa warna. Benar-benar hanya sepotong singkong rebus yang hambar bagiku.
Namun siapa sangka, anak kecil seusia adikku yang biasanya tidak doyan dengan makanan hambar seperti ini malah melahapnya dengan penuh semangat. Sambil memegang potongan singkong rebus yang putih mulus itu dia melontarkan kalimat-kalimat yang seketika membuatku ingin tergelak. Antara menahan tawa geli dan lucu, berpikir, lalu kemudian berhasil mengambil makna dari tingkah laku polosnya itu.
"Ehmmm, enak... rasa ayam goreng..." begitulah celoteh adik di meja makan sambil terus melahap singkong rebusnya dengan wajah penuh semangat seolah-olah apa yang dia makan benar-benar ayam goreng sungguhan. Mendengar kalimat itu, aku menghentikan suapan beberapa detik lalu memandanginya yang tetap tak menghiraukanku malah fokus menikmati menu singkong rebus tanpa rasa tersebut.
Aku geli rasanya ingin tertawa saja, namun kutahan. Kutatap lekat-lekat adik lalu kutanyakan padanya. "Dik, itu ayam goreng yah?" tanyaku pura-pura bodoh.
"Ia kak, ini ayam gorengku rasanya enak sekali. Dagingnya pun empuk" jawabnya setengah terkekeh sambil memamerkan singkong rebus yang dipegangnya. Mimik wajahnya jelas tahu, bahwa aku sedang menahan geli hingga kami berdua terkekeh bersama. Entah menertawakan imajinasi adikku yang begitu polos atau menertawakan kebodohan kami berdua. Apalah itu tak penting dibandingkan suatu makna yang kuambil dari kejadian ini.
Yah jelas sekali bahwa kebahagiaan hidup itu lahir dari cara kita berpikir dan menjalani kehidupan itu sendiri. Jika kita merasa hidup kita begitu berat dan penuh derita maka berat dan derita lah yang kita hadapi sehari-hari. Namun jika kita rasa hidup ini indah dan penuh kebahagiaan, maka perasaan bahagia dan syukurlah yang akan kita terima serta rasakan setiap harinya, walaupun itu hanya untuk hal-hal kecil yang remeh-temeh.
Yah, jelas sekali bahwa imajinasi polos adikku itu telah membawanya pada rasa syukur dan akhirnya menerima rezeki yang Tuhan berikan dalam kehidupan ini, meski hanya lewat sepotong singkong rebus yang hambar rasa. Mungkin adikku itu tidak sadar bahwa sesungguhnya dia telah menikmati hidup yang biasa ini dengan cara yang luar biasa melalui permainan di alam pikirannya.
Sobat, hidup ini memang tak selalu indah, hidup pun juga tak mudah, makanya kita harus selalu pandai menjadikan hidup ini indah lalu melakukan hal-hal untuk menaklukkan ketidakmudahan itu. Bermula dari pikiran lalu berlanjut pada tindakan. Memang sama halnya dengan hidup yang tak selalu indah, suasana hatipun tak selalu baik, pikiran tak selalu positif. Maka, kita yang menjalaninya mesti pandai-pandai menjaga suasana hati tetap baik dan berusaha selalu berpikir positif agar hidup yang katanya rumit ini bisa kita nikmati dengan begitu sederhananya. Lagi-lagi memang tak mudah, namun percayalah "Tak ada yang tak BISA"
Writed by: Ernawati
Makan Malam (Minggu, 01 Juni 2014)


Komentar
Posting Komentar