Nice Thursday. :)
Kali ini saya akan posting tentang jilat-jilatan (psstt,, jangan negative thinking dulu ya sobat. Jilat-jilatan di sini bukan yang nyeleneh atau berbau vulgar kok) kali ini saya akan bercerita tentang "Menjilat Ludah Sendiri" iewww, bukan jorok loh yah. :D
Menjilat ludah sendiri hanya ungkapan saja kok, untuk mereka yang menarik kata-katanya kembali. Memang benar di dunia ini ada 3 hal yang ga bakal balik lagi seperti semula. Apa itu?
1. Batu yang sudah dilemparkan
2. Kata-kata yang udah diucapin
3. Waktu yang telah berlalu.
Oke, disini saya pengen ngambil point nomor dua. "Kata-kata yang sudah diucapkan". Biasanya kata-kata yang sudah diucapkan ini susah banget buat ditarik kembali. Karena apa yang udah keluar dari mulut kita, apa yang udah terucap dari daging tak bertulang ini pasti akan terekam dalam memori otak orang lain. Hal ini terkait dengan komitmen kita. Makanya sobat, kita harus berhati-hati menjaga lidah. Jangan sampai penyesalan menjadi pil pahit yang harus ditelan di kemudian hari.
Sebenarnya tidak ada yang salah sih dari menarik kata-kata kembali. Tetapi bagi sebagian orang, menarik kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan itu ibarat sebuah aib. Sebuah peristiwa yang akan menjatuhkan harga diri, sebuah keadaan dimana setelah itu orang lain akan menilai mereka rendah. Mereka menjadi terlihat tak berarti, tak berguna, plin-plan, dan akan diremehkan. Itu adalah sebagian dari banyaknya pikiran negatif seseorang. Lantas apakah keadaan sebenarnya benar separah itu? Atau itu semua hanya semata pikiran mereka pemilik gengsi yang tidak mau menurunkan sedikit saja harga dirinya?
Jawabannya tepat. Itu semua hanya pikiran kita belaka yang tidak mau mengakui sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. Hanya karena semua telah terlontar melalui ucapan. Seseorang pernah mengatakan kepada saya, seingat saya begini katanya "Jika kamu merasa menjilat ludahmu sendiri akan membuatmu merasa nyaman, lakukan saja. Sudahi memikirkan pandangan orang. Selama ini kita hanya terlalu sibuk dengan pandangan orang terhadap kita yang belum tentu benar adanya. Berhentilah memikirkan semua itu, lakukan apa yang kamu rasa itu membuatmu nyaman walau untuk mendapatkannya kamu harus menjilat ludah sendiri. Jangan korbankan kebahagiaanmu hanya demi ego dan rasa gengsimu".
Yah, memang sebenarnya apa yang akan terjadi tidaklah seburuk apa yang kita pikirkan. Kita hanya terlalu jauh bermain dengan logika. Melupakan perasaan, mengedepankan emosi, ambisi, ego dan rasa gengsi. Hingga akhirnya merasa sakit sendiri yang entah kapan rasa itu akan berakhir. Maukah bagi kita yang selama ini kukuh dengan gengsi menghabiskan usia dalam ketidak bahagiaan? maukah kita mengorbankan kebahagiaan kita yang sesungguhnya sederhana itu hanya demi gengsi dan ego? lantas setelah kita mendapatkan semuanya apakah kita bahagia? tanyakan semua pada diri kita. Selama ini kita hanya terlalu sombong sobat, menganggap kitalah yang paling hebat dan bisa, tidak mau mengakui kekalahan, tidak mau mengatakan bahwa kita butuh. Sudahi semua, tidak ada gunanya menyimpan rasa sakit. Beranjaklah :)
---Based on My Story "Diantara Hati yang Gelisah" (09 Januari 2013)---
Kali ini saya akan posting tentang jilat-jilatan (psstt,, jangan negative thinking dulu ya sobat. Jilat-jilatan di sini bukan yang nyeleneh atau berbau vulgar kok) kali ini saya akan bercerita tentang "Menjilat Ludah Sendiri" iewww, bukan jorok loh yah. :D
Menjilat ludah sendiri hanya ungkapan saja kok, untuk mereka yang menarik kata-katanya kembali. Memang benar di dunia ini ada 3 hal yang ga bakal balik lagi seperti semula. Apa itu?
1. Batu yang sudah dilemparkan
2. Kata-kata yang udah diucapin
3. Waktu yang telah berlalu.
Oke, disini saya pengen ngambil point nomor dua. "Kata-kata yang sudah diucapkan". Biasanya kata-kata yang sudah diucapkan ini susah banget buat ditarik kembali. Karena apa yang udah keluar dari mulut kita, apa yang udah terucap dari daging tak bertulang ini pasti akan terekam dalam memori otak orang lain. Hal ini terkait dengan komitmen kita. Makanya sobat, kita harus berhati-hati menjaga lidah. Jangan sampai penyesalan menjadi pil pahit yang harus ditelan di kemudian hari.
Sebenarnya tidak ada yang salah sih dari menarik kata-kata kembali. Tetapi bagi sebagian orang, menarik kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan itu ibarat sebuah aib. Sebuah peristiwa yang akan menjatuhkan harga diri, sebuah keadaan dimana setelah itu orang lain akan menilai mereka rendah. Mereka menjadi terlihat tak berarti, tak berguna, plin-plan, dan akan diremehkan. Itu adalah sebagian dari banyaknya pikiran negatif seseorang. Lantas apakah keadaan sebenarnya benar separah itu? Atau itu semua hanya semata pikiran mereka pemilik gengsi yang tidak mau menurunkan sedikit saja harga dirinya?
Jawabannya tepat. Itu semua hanya pikiran kita belaka yang tidak mau mengakui sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. Hanya karena semua telah terlontar melalui ucapan. Seseorang pernah mengatakan kepada saya, seingat saya begini katanya "Jika kamu merasa menjilat ludahmu sendiri akan membuatmu merasa nyaman, lakukan saja. Sudahi memikirkan pandangan orang. Selama ini kita hanya terlalu sibuk dengan pandangan orang terhadap kita yang belum tentu benar adanya. Berhentilah memikirkan semua itu, lakukan apa yang kamu rasa itu membuatmu nyaman walau untuk mendapatkannya kamu harus menjilat ludah sendiri. Jangan korbankan kebahagiaanmu hanya demi ego dan rasa gengsimu".
Yah, memang sebenarnya apa yang akan terjadi tidaklah seburuk apa yang kita pikirkan. Kita hanya terlalu jauh bermain dengan logika. Melupakan perasaan, mengedepankan emosi, ambisi, ego dan rasa gengsi. Hingga akhirnya merasa sakit sendiri yang entah kapan rasa itu akan berakhir. Maukah bagi kita yang selama ini kukuh dengan gengsi menghabiskan usia dalam ketidak bahagiaan? maukah kita mengorbankan kebahagiaan kita yang sesungguhnya sederhana itu hanya demi gengsi dan ego? lantas setelah kita mendapatkan semuanya apakah kita bahagia? tanyakan semua pada diri kita. Selama ini kita hanya terlalu sombong sobat, menganggap kitalah yang paling hebat dan bisa, tidak mau mengakui kekalahan, tidak mau mengatakan bahwa kita butuh. Sudahi semua, tidak ada gunanya menyimpan rasa sakit. Beranjaklah :)
---Based on My Story "Diantara Hati yang Gelisah" (09 Januari 2013)---
Komentar
Posting Komentar