~CERITA TANPA JUDUL~
“Ehhh,,, denger-denger ada anak
baru loh”
“Oh yahhh,,, cowokkk ya???”
“He eh,,, cakeppp loh… dari Amrik”
Suasana SMU Bhakti Nusa pagi
itu diwarnai dengan gossip adanya siswa baru cowok dari Amerika. Namanya Bryan.
Teeetttt….Teeettt….Tettttt….Teeettt….
Bel berbunyi empat kali tanda
pelajaran akan mulai. Alicia buru-buru lari menyusuri koridor sekolah menuju
kelasnya.Tiba-tiba tanpa sengaja dia menubruk seorang cowok yang berjalan
searah dengannya. “BRUUKKK”
“Awwww…..,,, sakiittt….”teriak
Alicia sambil mencoba untuk bangkit.
“Lo Sihhh lari-lari kayak
dikejar maling, jadi nabrak kan?” ujar cowok yang ditabraknya tadi.
“Ahhh udah deh bawellll lohhh…
gak sempat debat, sorry ajah deh gue lagi bru-buru…”respon Alicia sambil
bergegas masuk ke kelasnya. Cowok tadi hanya geleng-geleng kepala lalu
meneruskan perjalanannya ke ruang guru.
^_^
“Selamat Pagi anak-anak” sapa
Ibu Sintia sambil meletakkan tas dan buku-bukunya di atas meja.
“Pagi Buuuukkkk…..”
“Baik, hari ini kalian punya
temen baru di kelas ini, dia pindahan dari Amerika, Bryan mari masuk” ujar Bu
Sintia sambil mempersilahkan siswa baru itu masuk dan memperkenalkan diri.
“Please, introduce yourself to
your new friends..”
“Yup, thanks miss…”
“Hello Class,,, I’m Bryan
Raditia, please call me Bryan. ,, I’m from USA, nice to meet you all” Ujar
Bryan memperkenalkan dirinya dalam bahasa inggris yang fasih. Kemudian dia
dipersilahkan duduk tepat di belakang seorang cewek yang gak lain Alicia, cewek
yang pernah nabraknya di koridor tadi.
“Salsa,,,, Ganteng bangeeettttt
“ gumam Dara salah satu siswa dikelas itu dengan nada sedikit genit pada teman
sebangkunya.
“Iaa Ra,,, Ganteengggg,,Coll
bangeetttt” ujar Salsa dengan nada yang juga sama-sama genit.
Jam pertama, pelajaran bahasa
inggris berjalan mulus, dan sekarang waktunya istirahat.
“Hmmmm, Hyyy Bryaannnn,,, Aku
Dara,,, mau bareng ke kantin gakkk sama akuuu” ujar Dara dengan nada genitnya
saat menghampiri Bryan.
“Oh,, hy. Duluan aja,, “ jawab
Bryan sambil tersenyum ramah.
“Hmmm ya udahh dehhh,, kita
cabut dulu yah,, Bye Bryannn” ujar Dara sambil meninggalkan kelas bersama Salsa
teman akrabnya itu.
Alicia masih menekuri latihan
soal-soal matematika di buku paketnya.Earphone yang terpasang di kedua
telinganya melantunkan lagu-lagu jazz kesukaannya.
“Hey,,, Kamu cewek yang
dikoridor tadi kan?” ujar Bryan dari belakang bangku Alicia. “Heyyy….” Bryan
mengulangi memanggil Alicia sambil menepuk-nepuk bahu Alicia. Alicia yang
sedari tadi asik menekuri soal-soal matematika sambil menikmati alunan lagu
jazz lewat earphonenya itu segera membalikkan badannya.
“Huh… kenapa sih Bryan malah
ngobrol sama cewek luser dan aneh itu, sial…!” gerutu Dara sambil mengintip
Bryan dan Alicia kemudian Dara pergi menuju kantin.
“Lo ngomong sama guee???” Tanya
Alicia balik sambil melepas sebelah earphone yang menempel di telinga kirinya.
“Ya iyalah sama lo,,emang ada
siapa lagi di sini selain lo…?”
“Tuh ada cicak…“ responnya
ngasal. “Emang ada apa??” tambahnya serius.
“Lo kan cewek yang nabrak gue
waktu di koridor tadi kan?” Tanya Bryan
“Iya…” Alicia menjawab singkat
kemudian memasang kembali earphonenya dan kembali menekuri soal-soal di buku
latihan.
“Huh,,, bukannya minta maaf,
malah cuek bebek” Bryan bergumam sendiri. Kemudian dia berjalan keluar menuju
kantin.
Di kantin.
“Deo,,, gue mau nanya nih sama
lo?” ujar Bryan pada Deo teman barunya itu.
“Soal apa Bry… Tanya aja” jawab
Deo sambil terus mengunyah nasi ayam
yang ada di mulutnya.
“Gue mau nanya soal cewek di
kelas kita,,, yang namanya Alicia itu…”
“Alicia…??? Ngapain nanyain dia
hayooo,, naksir yah xixixixix” ledek Deo.
“Ah nggak kok, Cuma pengen tau
aja, kok anaknya dingin banget padahal tadi pagi dia nabrak gue di koridor eh
bukannya minta maaf malah waktu gue sapa dia cuek bebek aja” jelas Bryan
panjang lebar.
“Hmmm,,, dia emang anaknya
kayak gitu, gak terlalu banyak ngomong, tapi anaknya baik loh. Pinter lagi,,,”
“OOoo begituuu…” ujar Bryan
kemudian menyeruput es jeruk yang ada di hadapannya.
^_^
Sore
yang cerah menghiasi indahnya suasana hari ini.Seorang cewek berseragam sekolah
berjalan terburu-buru keluar dari gerbang sekolah. Dia gak lain Alicia. Sekolah
memang udah bubaran dari jam 2 tadi siang, tapi Alicia memang punya kebiasaan
pulang jam setengah empatan karena biasanya dia menghabiskan waktunya sendirian
di sekolah untuk sedikit belajar dan mengerjakan tugas. Baginya keadaan hening
saat para siswa telah pulang adalah waktu yang tepat untuk belajar.Apa lagi dia
tidak punya banyak waktu belajar di rumah. Penjaga sekolah yang kebetulan
tinggal di belakang gedung sekolah telah paham dan memaklumi kebiasaan gadis
yang satu ini.
“Mau
pulang bareng ?” tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Alicia. Bryan menyapanya
ramah dan memberikan tawaran agar Alicia mau pulang bersamanya.
“Nggak,
makasih…” ucap Alicia datar kemudian berlalu pergi.
^_^
“Siapa gadis itu,,, dia mirip
sekali dengan ,,,,,,???” entah mengapa tiba-tiba Bryan menggantung katanya.
“Akh,,, tidak,, pasti bukan
dia, Cimut masa kecilku tak mungkin jadi seperti dia sekarang, pendiam, jutek
dan arogan,, bukan dia bukan…”Bryan bergumam sendiri di kamarnya memastikan
bahwa Alicia bukanlah orang yang dia cari selama ini.
^_^
Berhari-hari Bryan mencari tahu
tentang Alicia, orang yang mirip sekali dengan seorang gadis yang dipanggilnya
Cimut saat dia masih kecil dulu.Hingga hari ini Bryan bisa mendapatkan alamat
rumah Alicia dari data administrasi sekolahan, karena tak satupun dari temannya
mengetahui di mana Alicia tinggal.
“Jln. Anggrek no. 12??? Yah ini
dia …” gumam Bryan memastikan alamat yang tertera di secarik kertas kecil di
tangannya itu.
Lalu dia masuk ke pekarangan
sebuah rumah sederhana itu.Beberapa kali dia mengetuk pintu, tak ada jawaban
dan tak satupun orang yang keluar.Bryan mulai gusar, dia akhirnya memutuskan
untuk pergi meninggalkan rumah itu, belum jauh Bryan melangkah, terdengar suara
seorang wanita sambil membukakan pintu.
“Siapa …?” Tanya seorang wanita
paruh baya.
Bryan yang baru berjalan
beberapa langkah segera membalikkan badannya dan berjalan ke arah sumber
suara.Langkahnya terhenti saat dia menatap wajah wanita yang membukakannya
pintu itu.
“Tante Riana…” gumamnya
“Siapa? Cari Alicia yah..?”
Ujar wanita tadi sambil tersenyum.
Bryan masih terdiam, wajah dan
mulutnya terasa beku, berbagai hal mulai menimbulkan tanda Tanya di kepalanya setelah
dia bertemu dengan wanita setengah baya yang ada di rumah Alicia ini.
“Dek,, cari siapa???” wanita
itu mengulangi pertanyaannya.
“Oh,, Alicia ada tante??” Tanya
Bryan ketika tersadar dari lamunannya.
“Hmmm temen Alicia yah…? Tanya
wanita itu lagi.“Alicia belum pulang dek…” tambah wanita tadi.
“Oh,, ya udah deh,, aku pamit
dulu kalau gitu tante…” lalu pergi meninggalkan rumah Alicia.
^_^
“Deo,,, lo tau banyak gak sih
tentang Alicia???” Tanya Bryan tiba-tiba saat mereka tengah asik menikmati
makanan di kantin.
“Hmmm,,, gak tau banyak sih
Bry,,, soalnya dia orangnya tertutup banget. Cuma yang gue denger sih dia anak
yatim gitu soalnya papanya udah meninggal di kecelakaan mobil, gue sih gak tau
pastinya bener apa nggak dan kalo gak salah sekarang dia Cuma tinggal sama
mamanya”
Teeettt… Teeettt…Teeettt…
Bel berbunyi tiga kali tanda
jam pulang sekolah, tidak seperti biasanya, hari ini Alicia langsung pulang
sebelum pukul setengah empat. Yah hari ini hari sabtu, dan Alicia bebas dari
tugas sekolah.
Bryan buru-buru menuju parkiran
mengambil motornya, kemudian bergegas menghampiri Alicia.
“Hey,, mau bareng gak…?” Bryan
berhenti sambil menawarkan untuk pulang bersamanya.
“Hmm,,, gak usah makasih gue
bisa jalan sendiri” respon Alicia ketus.
“Duhh ketus banget… sihhh”
Bryan mencoba menggoda Alicia.
“Hey,, Who are you,, why u
always disturb me …..!!!” bentak Alicia, Alicia kelihatannya terusik sekali
dengan kehadiran Bryan disitu.
“I never trouble you,, I just
want knowwell with you…?”
“BUT I WON’T !!!!” bentak
Alicia kemudian beranjak pergi.
“liat tuh Salsa, apa sih
hebatnya si Alicia, cewek miskin dan aneh itu. Kenapa sih Bryan dari awal
selalu ngejar-ngejar dia? Sementara gue malah dicuekin. SIAL!!! Mesti dikasih
pelajaran nih cewek! Dara berujar dengan geramnya setelah menyaksikan Bryan yang ngotot mengejar Alicia.
^_^
“Kenapa dia sama sekali tak
mengenaliku, 6 tahun bukan waktu yang terlalu cepat untuk bisa melupakan
seseorang, tapi kenapa Alicia tak mengenali aku…” Bryan bergumam sendiri sambil
mondar-mandir di kamarnya, terkadang dia memencet-mencet keypad hpnya mencari
nomor Alicia.
“Apa aku harus menelponnya
sekarang dan bilang bahwa aku teman masa kecilnya??” gumam Bryan sambil melihat
ke layar ponselnya
“Akhh tidak,,, pasti dia akan
semakin benci padaku karena dia pikir aku mengada-ada”
“Tapi….”Bryan menggantung
kalimatnya. “Arrgggghhh tauk ah pusing…” Desah Bryan sambil menghempaskan
tubuhnya di atas tempat tidur.
“JANGAN GANGGU AKUUUU!!!!”
Gadis itu terus membentak Bryan.Seketika dia terdiam lalu menangis histeris dan
kemudian berlari tanpa arah tujuan. Tiba-tiba tanpa disadari sebuah truk melaju
dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan dan tiba-tiba “CITTTT,,,
BRUKKKKK….” Alicia terpental, tubuhnya penuh darah dan tak sadarkan diri.
“ALICIAAAA…..!!!!!!!”Bryan
berteriak histeris.Tiba-tiba terdengar ponselnya berdering, sebuah pesan masuk,
Bryan segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal, dibukanya pesan
singkat itu.Seketika Bryan terbelalak membacanya.
From:
Alicia
Nanti
Sianx jam 9’an aku tnggu kamu d’Taman dket komplek rumahku. kamu tw kan,, kata
ma” ku, kamu pernah k’sini jadi kamu pasti tw tmpt’a. Ada yang mau aku Tanya dan
omongn ke kamu…,, see u “Alicia”.
“Ahhh
syukurlah,, ternyata tadi cuma mimpi,,,” Bryan tersenyum dan bernafas lega.
Kemudian dilihatnya jam weker di meja samping tempat tidurnya, jam sudah
menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bryan segera bangkit dari tempat tidurnya dan
bergegas menuju kamar mandi untuk kemudian “Blammm” mandi…
Selesai
bersiap-siap, sarapan dan pamitan kepada mamanya, Bryan langsung menuju garasi
rumahnya, mengambil sepeda dan kemudian bergegas ke taman dekat komplek rumah
Alicia. Dia mengendarai sepeda perlahan menikmati kesejukan udara di pagi
minggu yang cerah, tak lama kemudian Bryan telah tiba di tempat tujuannya,
taman dekat komplek perumahan Alicia. Bryan menghampiri seorang cewek yang
tengah duduk di tepi kolam ikan itu.
“Alicia…”
sapanya dari arah belakang.
Alicia
berdiri dan membalikkan badannya ke arah sumber suara yang memanggilnya. Alicia
terlihat beda hari ini, dia tampak lebih cantik dan feminim dari biasanya,
dengan baju kaos pink motif kupu-kupu dan rok panjang putih bermotif bunga
dibawahnya. Alicia tersenyum saat tahu yang datang adalah Bryan. Bryan balas
tersenyum namun dengan perasaan yang bercampur aduk karena merasa aneh dengan
sikap dan perlakuan Alicia hari ini. Semua beda, sudah satu bulan Bryan pindah
ke sekolahnya tapi baru hari ini Alicia ramah padanya. Semua terasa aneh bagi
Bryan walaupun tak bisa dipungkiri ada rasa bahagia yang perlahan datang.
“Ini…”
Alicia bergumam pelan sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna putih dengan
motif batik itu kepada Bryan.Belum sempat Bryan berkata-kata Alicia telah
berjalan menjauh meninggalkannya.
“Alicia…tunggu…”
teriak Bryan sambil berusaha mengejarnya.Sejenak Alicia menghentikan
langkahnya.
“Apa
ini???” Tanya Bryan saat dia sudah berada di hadapan Alicia.
“Nanti
kamu akan tahu sendiri..aku harus pulang sorry” ujar Alicia kemudian berlalu
lagi.
Bryan
hanya diam terpaku sambil menatap Alicia yang tengah berjalan dari kejauhan. Kemudian
dia mengalihkan pandangannya ke kotak putih yang ada di tangannya. Perlahan
Bryan membuka kotak itu, dan seketika Bryan tercengang saat melihat isinya
adalah sebuah gantungan tas berbentuk dolphin yang di salah satu sisinya
tertulis nama “CIMUT”. Bryan ingat, itu adalah gantungan yang diberikannya pada
Alicia sebelum dia pindah.
“Ternyata
Alicia tau siapa aku…?” gumam Bryan perlahan sambil memandangi gantungan kecil
yang ada di tangannya itu. Bryan kemudian bergegas menuju rumah Alicia.
“Tante,
Alicia ada???” Tanya Bryan pada ibu Alicia yang sedang menyirami bunga-bunga
aster yang bermekaran di serambi rumah.
“Loh,,
barusan dia pulang tapi udah pergi lagi Dek…” jawab ibu Alicia ramah.
“Tante
tau gak dia kemana??” Bryan bertanya penuh harap.
“Maaf
Dek, Tante kurang tau..tadi katanya Cuma pergi sebentar muter-muter komplek
sini aja” jelas ibu Alicia panjang lebar.
“Oh
ya udah deh Tante kalo gitu,, Bryan pamit dulu, makasih” Bryan kemudian berlalu
pergi meninggalkan rumah Alicia. Bryan mengayuh pelan sepedanya, dia tak
henti-henti berpikir tentang Alicia sepanjang jalan.Tiba-tiba dia berhenti
sejenak di bawah sebuah pohon kenari besar tak jauh dari rumah Alicia.
“Aku
ingat…” gumamnya pelan.
“Yah…
pasti di sana…” tambahnya lagi.Sepertinya Bryan mulai mengingat
sesuatu.Kemudian dia kayuh lagi sepedanya kali ini dengan lebih cepat.Menuju ke
sebuah gedung tua di ujung komplek ini. Bryan meletakkan sepedanya di bawah
pohon jambu air yang tumbuh subur di depan gedung tua itu. Kemudian dengan ragu
dia melangkah perlahan ke belakang gedung.
Gedung
ini adalah bekas sebuah taman kanak-kanak. Dulu Alicia dan Bryan pertama kali
bertemu. Saat itu Alicia tengah menangis karena bekal makan siangnya tumpah
beserakan di lantai. Bryan kecil yang merasa kasihan kemudian mendekati Alicia
dan menawarkan untuk makan siang bersama dengan bekal yang Bryan bawa.
“Kamu
kenapa nangis?? Jangan nangis yah… ayo kita makan sama-sama. Mama bikinin aku
nasi goreng special, enak dehhh…” Bryan kecil berujuar pada Alicia dengan
polosnya.
“Oh
yah,,, aku juga punya gantungan tas lucu deh,,, ini buat kamu… tapi kamu jangan
nangis lagi yah…” tambah Bryan sambil memberikan sebuah gantungan tas berbentuk
dolphin dengan tulisan Cimut di punggungnya.
Alicia
berhenti mengangis dan mengelap air mata dengan sapu tangan yang dibawanya.
Tangannya perlahan meraih gantungan kunci dari tangan Bryan. Kemudian Alicia
mengangguk dan tersenyum mengiyakan, lalu mereka menikmati bekal makan siang
milik Bryan bersama-sama.
Semenjak
saat itu Bryan dan Alicia berteman dan semakin akrab saja, mereka selalu
bermain bersama dan kemana-mana bersama.
Sampai
suatu hari ketika mereka berdua telah duduk di kelas 5 SD. Saat itu hujan turun
dengan lebatnya disertai Guntur dan petir yang menggelegar menakutkan. Alicia
dan Bryan sedang berteduh di gerbang sekolah sambil menunggu jemputan.
Tiba-tiba sebuah mobil CRV warna silver berhenti di hadapan mereka. Tak lama
kemudian seorang pria setengah baya memakai pakaian supir keluar dari mobil itu
dengan memakai payung.
“Den
Bryan,,,, ayo pulang situasi di rumah gawat Den,,, Mama Aden sakitnya tambah
parah…” ujar laki-laki setengah baya tadi yang ternyata adalah supir pribadi
keluarga Bryan. Bryan panik mendengar kondisi mamanya yang memang satu bulan
ini sakit parah. Semenjak ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil satu bulan
yang lalu, ibunya mulai sering sakit-sakitan karena tertekan batinnya yang
tidak rela ditinggalkan suaminya. Saking paniknya, tanpa memperdulikan Alicia
Bryan langsung bergegas masuk ke mobil dan tak lama kemudian mobil telah
melesat cepat menerobos hujan lebat. Alicia terpaku, Bryan tak
memperdulikannya. Kini dia tinggal
sendiri di situ,, sesaat kemudian mulai terdengar isak tangis gadis kecil itu,
tak lama setelah itu semuanya berkunang dan gelap. Alicia pingsan.
^_^
Cuaca
pagi ini cerah tak seperti kemarin yang hujan seharian.Hari ini Alicia
memutuskan berangkat sekolah dengan naik sepeda. Hampir 15 menit Alicia
menunggu Bryan di depan rumahnya tapi tak kunjung juga Bryan keluar.
Dipanggilnya berkali-kali tak seorangpun yang menjawab.Akhirnya Alicia
memutuskan untuk berangkat sekolah sendirian.
Alicia
mulai kecewa dengan Bryan akhir-akhir ini, sudah 2 hari Bryan tak kelihatan
batang hidungnya di sekolah.Tak ada kabar apapun tentang Bryan. Biasanya jika
Bryan sakit atau tak bisa masuk kelas, dia akan menitipkan surat pada Alicia.
Tapi dua hari ini tidak lagi, pintu rumahnya pun terkunci rapat seolah tak ada
seorangpun di dalamnya.Alicia mulai gelisah dan semakin kecewa, sampai siang
ini semua kekecewaan dan kegelisahannya terjawab saat dia mendengar pengumuman
bahwa Bryan telah pindah sekolah. Ditambah lagi saat Alica pulang melewati
rumah Bryan, di gerbang rumahnya tertulis jelas sebuah tulisan “RUMAH INI DI
JUAL” .
Semenjak
hari itu tak ada lagi cerita antara
Bryan dan Alicia. Semua terkubur dalam, sedalam kekecewaan Alicia pada Bryan
yang dia anggap tega meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.Tanpa pamit dan
pergi begitu saja seolah tak peduli pada Alicia.
Tapi
hari ini semua cerita masa kecil itu seolah terkuak lagi.Bryan dengan langkah
ragu-ragu menghampiri Alicia yang duduk termenung sambil melempar-lempar batu
kerikil ke danau yang ada di belakang gedung tua ini.
“Cimut…”
panggil Bryan pelan.Alicia tak bergeming, dia hanya berhenti melempari batu
pada danau yang tak bersalah itu.
“Alicia
Sukmawati…..” ulang Bryan dengan memanggil nama asli Alicia. Alicia membalikkan
badannya menatap Bryan yang kini berdiri terpaku tanpa ekspresi.Mereka diam
dalam perang batin masing-masing saling menatap tanpa kata.Sesaat kemudian
mereka berdua terduduk lesu dalam tautan batin mereka masing-masing.Bryan
berjalan mendekat dan duduk di samping Alicia, sejenak mereka masih tenang
dalam diamnya.
“Maaf….”
Bryan bergumam pelan.
“Tak
ada yang perlu dimaafkan, semuanya udah selesai.Aku tak mengenalmu.Jadi tolong
jangan ganggu aku lagi!” jawab Alicia lalu pergi.
Baru
beberapa langkah Alicia berjalan, Bryan memanggilnya. “CIMUT….”
Alicia
berhenti dan melihat ke arah Bryan, “Aku bukan cimut” lalu Alicia berlari
meninggalkan Bryan sambil menangis terisak.
“Baron…
itu dia.. habisin tuh cewek kalo perlu mati sekalian!!!!, nih uang buat loh”
ujar seorang cewek sambil memberikan seamplob uang kepada seorang pengendara
truk.
Alicia
terus berlari dan menangis sejadi-jadinya, Bryan berusaha mengejar sambil terus
memanggil Alicia. Tapi Alicia tetap tak mengindahkan Bryan, tanpa Alicia sadari
sebuah truk besar tengah melaju kencang di hadapannya dan tiba-tiba “BRUUUKKKK
!!!”Alicia terpental jauh, darah berceceran dari kepala dan hidungnya, Alicia
tak sadarkan diri.
“ALICIAAAAA…….!!!!!”
Bryan berteriak histeris dan menghampiri Alicia, lalu memeluknya dan menangis
sejadi-jadinya… “Bangun Sya,..,,,, jangan tinggalin aku…. Aku sayang banget
sama kamu,, bangun sya BANGUNNNN….!!!!” Teriaknya semakin histeris sambil terus
terisak.
^_^
“Bryan
sabar yah…. Kamu jangan sedih terus… Alicia pasti baik-baik aja kok, besok juga
pasti udah bisa keluar” ujar Dara berusaha menghibur Bryan.
“Buat
apa Lo sok baik sama Gue. Sampai kapanpun Gue gak kan pernah respect apa lagi
suka sama cewek kayak Lo !!!” bentak Bryan dengan kasarnya lalu meninggalkan
Dara sendirian di kelas.
“AKHHHH…
SIAL …!!!!” teriak Dara sambil melempar buku di hadapannya. “Kenapa sih tuh
cewek gak MAMPUS aja sekalian, nyusain aja!!!”
Dreetttt…
Dreetttt… Dreeetttt…
Ponsel
Bryan bergetar, sebuah panggilan masuk dari mama Alicia.
“Halo
Tante,,,”
“Halo
Bryan,,,, kabar baik, sore ini Alicia keluar dari rumah sakit” jawab suara dari
seberang dengan nada gembira.
“Oh
yah, Alhamdulillah…. Ya udah kalo gitu biar nanti pulang sekolah Bryan jemput
Tante, kita ke rumah sakitnya bareng kebetulan hari ini aku bawa mobil..” jelas
Bryan dengan nada tak kalah gembiranya.
Sepulang
sekolah Bryan langsung bergegas menuju rumah Alicia, menjemput tante Riana,
kemudian mereka berdua pergi ke rumah sakit untuk menjemput Alicia.
Setelah
tiba di rumah sakit, Bryan dan tante Riana bergegas menuju ruang rawat
Alicia.Betapa kagetnya mereka ketika pintu ruang rawat itu terbuka, mereka
melihat sesosok gadis dengan wajah yang penuh kesedihan sedang dibantu duduk di
atas kursi roda oleh seorang perawat.
“Pelan-pelan
dek,,,” ujar perawat itu sambil membantu Alicia untuk duduk di kursi roda.
“Sekarang
kamu mesti menggunakan kursi roda ini dulu, karena kamu belum terlalu kuat
untuk berdiri sendiri yah, kamu masih dalam masa penyembuhan” jelas perawat
tadi sebelum dia pergi meninggalkan ruang rawat itu.
“Alicia…”
panggil Bryan perlahan.Alicia yang baru duduk di kursi roda lalu memalingkan
wajahnya, dia tak mau menatap Bryan yang tengah berdiri di hadapannya.Alicia
malu dengan keadaannya yang sekarang, dia tak sanggup jika Bryan harus
melihatnya dalam keadaan yang tak pernah diinginkannya.Dia tak mau Bryan
melihatnya yang telah cacat.
Bryan
berjalan mendekati Alicia dan berjongkok di hadapan Alicia.
“Alicia…”
panggilnya perlahan sambil memegang kedua tangan Alicia, tapi Alicia menepisnya
dan memalingkan wajahnya.Tante Riana kemudian pergi bersama perawat menuju
ruang dokter untuk menanyakan keadaan Alicia.
“Pergi
kamu… !!! Aku nggak butuh belas kasihan dari orang macam kamu. Dalam hati,kamu
pasti sedang nertawain aku kan sekarang? PERGIII….!!!”Bentak Alicia tanpa
memandang Bryan.
“Apa
sih maksud kamu Sya…?” gumam Bryan sambil menatap Alicia yang masih tetap
memalingkan wajahnya.Perlahan Alicia menoleh ke arah Bryan, tatapannya dalam
namun kosong.Mereka saling bertatapan selama beberapa detik, kemudian Bryan
berusaha mengalihkan pandangannya dari mata Alicia.Dia tak sanggup melihat
gadis yang berada di hadapannya itu dalam keadaan putus asa seperti ini.Bryan
menghela napas panjang kemudian memegang kedua pundak Alicia.
“Sya,,,
dengerin aku…” ujarnya sambil menatap Alicia penuh arti.”Kamu hanya sementara
waktu menggunakan kursi roda ini, hanya untuk masa penyembuhan saja Sya“ ujar
Bryan seperti tahu apa yang dimaksud Alicia. “Seperti apapun kamu sekarang,
tidak akan merubah pandangan orang ke kamu.Kamu tetep Alicia yang dulu yang
penuh semangat, yang cerdas, yang selalu menjalani hidup dengan santai.Bukannya
kamu selalu bilang kalo hidup ini tidak rumit Sya…” tambah Bryan sambil
tersenyum tulus.
“Tapi,,,”
“Syuuttt,,,,
buktiin ke aku kalo hidup ini bener-bener gak rumit, kamu harus bangkit dari
keterpurukan kamu yah,, ingat fisik bukan segalanya, lagian ini hanya
sementara, demi kesembuhan kamu Sya, gak perlu malu jika harus pake kursi roda
di sekolah nantinya” ujar Bryan sambil meletakkan kedua tangannya di dada.
“Semuanya
ada di hati kita Sya,,, keinginan, tekad dan harapan, semuanya bersumber dari
hati” tambah Bryan sambil tersenyum. Alicia menyeka air mata di pipinya dengan
kedua tangannya, tak lama kemudian dia tersenyum pada Bryan.
“Nah
gitu dong senyum,,, jelek taukkk manyun mulu kaya cucian kusut hahaha…”Bryan
meledek Alicia sambil tertawa.
“Apaan
sihhh,, sini pinjem dasinya,, “ respon Alicia sambil membuka dasi sekolah
Bryan.
“Ehhh
mau diapainnn Sya…”
“CROOTTTT”
“Nihhhh,
buat kenang-kenangan hahaha” ujar Alicia sambil mengembalikan dasi Bryan yang
ujungnya sudah basah dan lengket.
“Ihhhh,,,,
gila kamu Sya,, joroknya kagak berubah dari dulu …..” gerutu Bryan sambil
memegang ujung yang lain yang masih bersih. Tapi Bryan senang akhirnya Alicia
bisa tertawa lepas lagi seperti dulu.Setelah selesai mengemasi barang-barang
dan mengurus semua urusan administrasi, mereka bertiga langsung bergegas pergi
meninggalkan rumah sakit.
“Hmmm,
Tante gimana kalo kita makan dulu di restorannya mama aku, kebetulan tadi mama
SMS katanya nyuruh ngajak tante sama Alicia buat makan bersama, sekalian pengen
kenal katanya” Bryan berujar sambil terus fokus menyetir mobil.
“Tante
sih terserah Alicianya aja” jawab ibu Alicia sambil memandang putrinya.
“Hmmm
emang gak ngerepotin mama kamu?” Tanya Alicia
“Yah
gak lah Sya,,, kan mama sendiri yang ngajak” jawab Bryan sambil melirik Alicia.
“Oh,
ya udah deh kalo gitu…”
Akhirnya
Alicia mengiyakan ajakan Bryan. Tidak sampai lima menit, Bryan telah
memarkirkan mobilnya di sebuah restoran khas jepang. Design dan ornament
restoran ini sangat kental dengan budaya jepang. Bryan keluar dan membantu
Alicia keluar dan duduk di kursi rodanya, disertai oleh ibunya.
“Tempat ini…” batin ibu Alicia, “Akhhh
mungkin hanya pikiranku saja, ini hanya kebetulan saja designnya sama” batinnya
lagi.
“Ayo
tante,,,”ajak Bryan yang sedari tadi melihat ibu Alicia termenung memperhatikan
restoran keluarga Bryan.
“Oh
iya,,,,” jawab ibu Alicia lalu mengikuti Bryan dan Alicia masuk ke restoran.
“Tante,,,
Alicia,,, bentar yah aku panggil mama dulu, pasti mama lagi asik di dapur, dia
suka banget masak soalnya, jadi biasanya dia sering berkutat di dapur bersama
koki lainnya” jelas Bryan kemudian pergi menuju dapur. Tak lama kemudian Bryan
kembali diikuti seorang wanita paruh baya berperawakan tinggi dan mengenakan
pakaian koki.
“Tante,,,
ini…”
“Silvia….” Gumam ibu Alicia setelah melihat ibu Bryan.
“Riana….”
Ujar ibu Bryan tak kalah kagetnya.
“Ayo
Sya,, kita pulang !!!” Ibu Alicia kemudian bergegas pergi bersama Alicia.
“Loh,,
Alicia,,, Tante Riana…” panggil Bryan. Bryan berusaha mengejar Alicia dan ibunya,
tapi mereka sudah keburu masuk ke dalam taksi dan pergi.Bryan kembali masuk ke
restorannya dan menghampiri mamanya yang sedang terdiam.
“Ma,,,
sebenarnya ada apa? Mama kenal sama tante Riana? Kenapa mereka pergi tiba-tiba”
Bryan menyerang mamanya dengan berbagai pertanyaan.Namun mamanya masih tetap
diam dengan tatapan kosong.
“Ma,,
kenapa diam, kenapa gak jawab…?” ujar Bryan lagi.
“Maaf
sayang Mama belum bisa jawab pertanyaan kamu sekarang…” mama Bryan menjawab
kemudian kembali ke dapur.
“Aneh…
ada apa sebenarnya ini…” gumam Bryan kemudian bergegas menuju mobil dan pergi.
“Assalamualaikumm….”
Bryan mengucap salam sambil mengetok pintu rumah Alicia. tak lama kemudian
seseorang menjawab salamnya dan membukakan pintu.
“Waalaikumsalam….KAMU….!!!”
“Ngapain
kamu datang ke sini,,, saya gak mau lagi liat kamu bergaul dengan anak saya!”
tambah mama Alicia lagi.
“Tante,,,
ada apa ini sebenarnya? Kenapa tante setelah ketemu mama malah membenci aku,
ada apa sebenarnya di antara kalian?”Bryan yang tidak mengerti dengan keadaan
yang sedang terjadi terus saja mendesak mama Alicia dengan berbagai pertanyaan.
“Kamu
mau tahu semua… silahkan kamu Tanya sama ibumu itu!” bentak mama Alicia sambil
menutup pintu dengan keras.Bryan hanya bisa menghela nafas panjang dan kemudian
dia pergi meninggalkan rumah Alicia.
“Ada
apa sebenarnya ini…?” gumam Bryan sambil menatap langit-langit kamarnya. “Aku
harus Tanya Alicia” gumamnya lagi sambil memencet-mencet keypad ponselnya
mencari contact numbernya Alicia. Berkali-kali Bryan mencoba menghubungi
Alicia, tapi gagal, nomornya tidak aktif dan sudah 3 pesan dikirimkan semuanya
gagal.Sepertinya Alicia mulai menjauhi Bryan lagi karena kejadian tadi siang.
“Nomernya
gak aktif, gue yakin dia gak mau gue hubungi, berarti Alicia tahu apa yang
terjadi sehingga dia juga ikut menjauh…”
“Yah,,,
besok gue mesti nyamperin dia di sekolah, dan menyelesaikan semuanya”
^_^
“Sya,,,
gue mau ngomong penting sama lo!” ujar Bryan
“Gue
lagi sibuk, lo gak liat gue lagi belajar! Ganggu aja!” ketus Alicia sambil
tetap focus ke soal-soal fisika di hadapannya.
“Sya,
please ini penting…” pinta Bryan setengah memohon.
“Okeh…”
Alicia menghentikan kesibukannya dan memandang Bryan. “Ngomong aja sekarang
!!!” ketusnya lagi.
“Sya,
bisa gak ngomongnya jangan di sini, gak enak sama temen-temen yang lain” pinta
Bryan lagi sambil melirik teman-temannya yang ternyata sedang memperhatikan
mereka berdua.
“Lo
gak liat apa! gue masih belum bisa jalan. Gue gak mau capek dorong kursi roda
Cuma buat dengar lelucon murahan lo dan keluarga lo itu !!!” bentak Alicia
dengan berangnya. Dara dan temannya salsa yang sedari tadi memperhatikan
keributan mereka saling tersenyum senang melihat Bryan dan Alicia kembali tak
akur seperti dulu. “Salsa,,, kalau kayak gini keadaannya, peluang gue buat
dapetin Bryan semakin terbuka lebar…”bisik Dara pada Salsa sahabatnya. “Betul
banget Dar,,, oh God semoga aja mereka saling bermusuhan…” ujar Salsa.
“Sya
please,, jangan ngomong di sini…” pinta Bryan dengan sangat memohon.
“Ngomong
sekarang, disini atau tidak sama sekali!!!!” bentak Alicia semakin ketus.Bryan
tidak dapat berbuat apa-apa lagi, akhirnya tanpa permisi Bryan menggendong
Alicia.
“BRYANNNN
….LO APA-APAAN..! TURUNIN GUE….!” Teriak Alicia sambil menjambak rambut Bryan.
Semua teman-teman memperhatikan mereka, ada yang senyam-senyum melihat adegan
romantis itu tapi ada juga yang manyun
karena ngiri, siapa lagi kalau bukan Dara.
“Dinda,,,
pengen dong kayak mereka,,, romantis banget yah…xexexe” bisik Intan sambil
nyengir gak jelas… “Kapan yah gue bakal digendong Bryan kayak gitu…” tambahnya
lagi sambil terkekeh pelan.
“Wu
ngarep luh…” ujar Dinda sambil menimpuk kepala Intan dengan buku.
“TURUNIN
GUE, Malu-maluin banget ….!” Teriak Alicia lagi.
“Bodok….!!”Respon
Bryan sepihak kemudian membawa Alicia pergi menuju halaman belakang sekolah.
“Yah..
Yah… Salsa mereka kok pergi…. Gue mesti ikutin.” Ujar Dara sambil bangkit dari
tempat duduk.
“Ehhhh
mau kemana loh, jangan ikut campur deh, biarin mereka nyelesain urusan mereka,
PENGACAU!!!” bentak Dinda sambil mendorong Dara kembali duduk di bangkunya.
^_^
“Sya,,,
apa sebenarnya yang terjadi… kenapa lo ngenjauhin gue, semenjak kalian ketemu
mama gue kemaren…” Tanya Bryan sambil memandang Alicia yang duduk di
sampingnya.
“Apa
penting buat lo…!” jawab Alicia dingin.
“Penting
banget Sya,,,, gue perlu tahu dong apa yang bikin kalian ngenjauhin kami…!”
ujar Bryan sambil mencoba sabar.
“Semua
udah gak ada gunanya lagi, lo tau atau nggak itu nggak akan mengubah
segalanya….! lebih baik lo pergi jauh-jauh dari kehidupan gue!” bentak Alicia.
“Nggak
Sya, Lo gak adil, gue juga berhak tau SYA…!!!” jawab Bryan setengah berteriak,
kali ini Bryan tak dapat menahan kesabarannya, ini pertama kalinya dia
membentak Alicia.
“Iya
ini emang gak adil, SANGAT GAK ADIL!!!”Alicia balas teriak sambil terisak.
“Sya,,
sorry, gue gak maksud ngembentak lo, gue kebawa emosi… ma…”
“UDAH
LAH!!! Lo gak tahu apa yang terjadi sama gue dan keluarga gue!!! Kalau saja
papa gak ikut-ikutan dalam proyek papa lo, mungkin sampai sekarang papa masih
ada, aku baru tahu kenapa sebabnya selama 7 tahun papa mendekam dipenjara
sampai akhirnya papa meninggal di penjara karena penganiyaan dari oknum polisi
gak lama setelah kalian pindah keluar negeri.Sementara papa lo sebagai
penanggung jawab proyek itu mana tanggung jawabnya, papa lo gak ngusahain untuk
membebaskan papa gue, padahal mereka sahabatan” jelas Alicia sambil terisak.
“Syaa,,,
lo gak tau apa yang terjadi sama bokap gue…”
“Gue
tau Bryan,, papa lo meninggal karena kecelakaan kan, gue rasa sih itu karma
buat lo dan keluarga lo!!!” jawab Alicia dengan ketusnya, sambil menyunggingkan
senyum sinisnya pada Bryan.
“Sya,,,
lo…” Bryan memandang tajam ke arah Alicia
sambil mengepalkan kedua tangannya
“Akhh
gue gak nyangka ternyata otak lo sepicik itu, pemikiran lo dangkal.Gak nyangka
gue, Sya…!” ujar Bryan sambil berusaha menahan amarah dan air matanya.
“So
What gitu loh, emang gue perduli ….!” Respon Alicia sambil tersenyum sinis.Tapi
Alicia tak bisa menyembunyikan perasaan bersalahnya karena telah mengeluarkan
kata-kata yang mungkin menyakiti hati Bryan.
“Okeh
terserah lo deh sekarang Sya, sorry kalo keluarga gue udah bikin banyak
kesusahan sama keluarga terhormat loh. Ujar Bryan lagi.Tak lama kemudian dia
menggendong Alicia.
“Eh
ngapain lo gendong gue, lo mau nyelakain gue sama kayak keluarga lo
dulu…!”bentak Alicia sambil memukul lengan Bryan.
“Lo
tenang aja lagi. Otak gue gak sepicik otak lo, pemikiran gue nggak dangkal
kayak lo, nyelakain lo gak kan mendatangkan keuntungan buat gue. Gue Cuma mau
ngantar lo ke kelas, gue gak mau dibilang gak punya tanggung jawab seperti lo
bilang bokap gue!” jawab Bryan dengan nada dingin kemudian berlalu menuju kelas
sambil menggendong Alicia.setelah membantu Alicia duduk di kursinya, Bryan
kembali ke mejanya kemudian mengambil tas dan buku-bukunya dan bergegas pergi
menuju ruang guru tanpa berbicara sepatah katapun.
“Salsa,,
wow I think there is something wrong with them,,,,kayaknya mereka mulai gak
akur tuh…” bisik Dara sambil memerhatikan gerak-gerik Alicia yang kini terlihat
gusar.
“Kayaknya
sih,,, lo liat aja tuh Alicia mukanya udah mau mewek,,, udah jelek banyak
tingkah sihhh!!!” respon Salsa dengan volume suara yang sengaja dibesarkan
sambil terkekeh.
“100
buat Salsa, you’re so brilliant honey,,, ditambah gak bisa jalan pulak, gue
pastiin tuh cacat dia!mana mau sih Bryan sama dia, ngimpi kali lo!!!” Dara
menimpali dengan nada tidak kalah sinisnya.
^_^
Udah
dua hari Bryan gak kelihatan batang hidungnya di sekolah. Dia juga gak ada
kabar, tak satu temannya yang tau apa yang terjadi padanya, beberapa kali Deo
menghubungi Bryan tapi ponselnya nggak pernah aktif. Akhirnya siang itu
sepulang sekolah Deo berniat mampir ke rumah Bryan untuk menanyakan mengapa
Bryan tidak masuk sekolah dua hari ini.Setelah berbincang cukup lama dengan
mamanya Bryan, barulah Deo tahu kalau Bryan tidak masuk dua hari ini karena dia
dirawat dirumah sakit.Namun Bryan memaksa mamanya untuk tidak menceritakan
kondisi kesehatannya yang ternyata sangat buruk bahkan semakin buruk dari hari
ke hari kepada siapapun, terutama kepada Alicia.itulah sebabnya mengapa Bryan
kembali lagi ke Indonesia setelah kepergiannya yang begitu lama, Bryan hanya
ingin bersama Alicia disisa-sisa waktunya.
Mungkin menimbulkan pertanyaan mengapa? Yah, Bryan adalah seorang
penderita kanker otak stadium lanjut, selama ini dia selalu berusaha terlihat
kuat dan sehat di depan semua orang. Tetapi sesungguhnya kondisinya telah
melemah bahkan kritis, bahkan dokter memprediksikan Bryan hanya akan bertahan
hidup selama 6 bulan lagi.
Setelah
menanyakan rumah sakit tempat Bryan di rawat, Deo langsung bergegas ke sana.
Tak sampai 15 menit Deo telah sampai di rumah sakit tempat Bryan di rawat.
“Bryan,,,”
ujar Deo sambil mendekati tempat tidur Bryan. Bryan baru saja sadar, dia masih
terlihat pucat dan lemas.Bryan hanya membalas sapaan temannya itu dengan senyum
tipis dan tak berdaya.
“Gue
udah tau semuanya Bry,, lo mesti kuat, lo laki-laki, lo mesti kuat yah !” Deo
menyemangati Bryan.
“Deo,,sekarang
lo udah tau gimana gue, gue mohon sama lo, lo rahasiain ini yah dari Alicia”Bryan
memohon pada temannya itu.
“Tapi
Bry,,”
“Deo,
please,,sekarang mau gue gak banyak, gue mau Alicia bisa jalan lagi dan liat
dia tersenyum bahagia selamanya. Itu udah cukup buat gue”
“Hmm,,
ok kalo itu mau lo, gue bakal coba jaga rahasia ini” gumam Deo sambil memegang
pundak temannya itu.
“Oh
ya, besok gue udah bisa keluar, lo jemput gue yah, ada yang mau gue beresin”
“Ok
deh,, emang masalah apaan? Lo baru juga keluar udah mau ngurusin ini-itu” Deo
menggerutu melihat tingkah temannya itu.
“Ini
masalah kecelakaan Alicia, selama ini gue cari orang buat mata-matain pemilik
truk yang nabrak Alicia waktu itu, nah dua hari yang lalu sebelum gue masuk
rumah sakit orang gue itu ngasih info ke gue kalo dia udah nemuin siapa pelaku
tabrak larinya Alicia itu, makanya pas itu gue pulang agak awal niatnya mau
clearin masalah ini, tapi keduluan kondisi gue drop, jadi belum sempat” jelas
Bryan panjang lebar.
“Tapi…”
“Gue
pengen ngeliat Alicia bahagia di penghujung hidup gue, Yo…” Bryan memotong
“Hmmm,,,
okeh lah besok kita selesain masalah
ini” respon Deo sambil tersenyum lebar.
^_^
Jarum
jam menunjukkan pukul 13.30 saatnya anak smu bubaran. Deo tergesa-gesa
menerobos kerumunan anak-anak yang memadati pintu kelas berebutan untuk pulang,
setelah berhasil menerobos keluar Deo segera berjalan setengah berlari
menyusuri koridor, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada seseorang yang
memanggilnya.
“Deo…”
teriak Alicia sambil berusaha menggerakkan kursi rodanya ingin menghampiri
Deo.Deo berbalik dan mendekati Alicia.
“Ada
apa Sya…?” tanya Deo penasaran, karena gak biasanya Alicia manggil dia.
“Hmmm,,,
lo kan temen baiknya Bryan, gue mau nanya kok dia nggak masuk yah udah tiga
hari ini, lo tahu dia kenapa?” Alicia bertanya dengan nada agak sungkan.
“Hmm,,
anu,, ehh... Bryan katanya Cuma gak enak
badan ajah.. yah gak enak badan…” ujar Deo gelagapan. Deo mulai risih,
takut-takut keceplosan ngomong soal rahasia Bryan, Segera dia mengalihkan
pembicaraan.
“Hmmm,
ya udah deh Sya,, gue mau pulang dulu yah, udah keroncongan banget nih daaa”
ujar Deo sambil melambaikan tangan dan bergegas menuju parkiran.
“Mencurigakan…”
gumam Alicia.
Di
rumah sakit, Bryan sudah duduk di lobby menunggu Deo menjemputnya. Sesuai
kesepakatan mereka kemarin, hari ini mereka akan menemui orang yang menabrak
Alicia tempo hari, itu sebabnya Bryan meminta mamanya untuk tidak menjemput
hari ini.
“Bry,,,
“panggil Deo sambil melambaikan tangannya dari pintu mobil. Melihat Deo sudah
datang, Bryan langsung bergegas menuju mobil Deo dan mereka langsung pergi ke
tempat tujuan mereka.
“Sob,,,
lo yakin ini tempatnya?” Deo bertanya memastikan bahwa tempat itu adalah tujuan
mereka.
“Yah,,,
gua yakin banget ini tempatnya, kemaren orang gue bilang truk berplat B701 itu
sering mampir di sini setiap jam 3 an, kita tunggu aja di sini, bentar lagi
juga pasti nongol” jelas Bryan sambil memperhatikan keadaan warung kopi yang
biasa menjadi tongkrongan para sopir truk, angkot, dan angkutan umum lainnya.
“Sob,
sob,,, tuh dia truknya,,,” ujar Deo sambil menunjuk ke arah sebuah truk yang
dimaksud. “Dia keluar, lagi nelpon siapa tuh dia…” tambah Deo.
“Kita
awasin dari sini dulu,,,”ujar Bryan.
“Lohh
loh,,, itu bukannya mobil Dara, ngapain tuh anak konglomerat sok imut nongkrong
di warung kopi kayak ginian,,,kayaknya ada yang aneh deh,, hal mustahil kalo
anak itu doyan ke tempat ginian” jelas Deo sambil terus memperhatikan.
“Tunggu,
tunggu,, kayaknya gue tau deh” tambah Deo lagi.
“Maksud
lo apa sob?” Tanya Bryan heran, tak mengerti dengan maksud perkataan Deo.
“Bukannya
si Dara mati-matian kan naksir sama lo, satu sekolah juga udah pada tahu itu
kan???” Deo mencoba menjelaskan.
“Lha,,
terusss???”
“Aduh
Bry, lo gak peka banget yah, si Dara tuh jelous sama Alicia, karena lo selalu
lebih memperhatikan Alicia. Gue yakin
banget pasti deh dia dalang dari semua ini, dia itu cewek egois Bry, gue tau
banget deh sama Dara tuh, gue dari SMP satu sekolah trus sama tuh anak, dia
kalo pengen sesuatu yah mesti dapet, kalo dia gak dapet orang lain juga gak
boleh dapetin itu. Gue yakin itu sopir truk udah dibayar sama Dara buat
nyelakain Alicia” Deo menjelaskan semuanya panjang lebar.
“Yakin
loh,,, ??”Bryan tak yakin.
“Ya
elah, udah mending dari pada lo ngeraguin omongan gue, nyok kita selidikin…”
ajak Deo kemudian keluar dari mobil.
“Gue
minta bayaran lagi 10 juta !”
“Enak
banget lo, asal nyemplak aja! Kerjaan lo gak beres, Alicia gak mampus! udah mau
minta duit lagi !!”
“Tapi
gue butuh duit sekarang !kalo gak gue bakal bongkar semua kejahatan lo, bocah
ingusan!!”
“Bodok!
Gue pastiin nyawa lo gak selamat kalo lo bongkar rahasia ini !” bentak Alicia
sambil berbalik. “Bryan…” Alicia terkaget gak kepalang melihat Bryan sudah
berada di hadapannya.
“Ehe..ngapain
lo di sini ?” Dara berujar dengan nada gugup.
“Kenapa,
lo kaget?Takut ketahuan?!”Bryan menyerang Dara dengan pertanyaan-pertanyaan
yang menyudutkan.
“Ehm,,
Bry gue bisa jelasin semua kok ke lo, ini gak seperti yang lo pikir” Dara mulai
berkilah dengan gugp.
“Ala,,,
udah la ,,, semua udah jelas. Lo ituemang gak punya otak!, lo liat aja gue
bakal angkat kasus ini, gue bakal tuntut lo atas kasus percobaan pembunuhan!”
ancam Bryan dengan nada serius kemudian pergi meninggalkan Dara.
Dara
mulai panik dan begitu takut dengan ancaman Bryan yang akan menjebloskannya ke
penjara, sesaat kemudian, entah setan apa lagi yang merasuki Dara, sehingga dia
terpikir untuk mencelakai Bryan. Dan secara kebetulan, sopir truk yang dibayarnya
untuk mecelakai Alicia tersebut masih ada di warung kopi itu.Setelah berpikir
sejenak, Dara kemudian memanggil sopir truk tadi.
“Ok,
gue bakal kasih lo 2 kali lipat dari yang lo bilang tadi, asalkan lo bisa
ngabisin cowok yang tadi!”
^_^
“Alicia…”
Bryan berlari menuju gerbang sekolah menghampiri Alicia.
“Sya,,
kamu udah bisa jalan??, apa kataku, kursi roda itu Cuma sementara” ujar Bryan
sambil tersenyum bahagia melihat Alicia
sudah bisa jalan.
“Gak
usah sok akrab deh..” ketus Alicia
“Sya...
aku mau ngomong bentar” ujar Bryan sambil menghambat langkah Alicia.Alicia
menghentikan langkahnya, namun tak satu kata pun yang keluar dari
mulutnya.Alicia menatap Bryan perlahan.
“Maafin
aku atas ucapanku waktu itu,,,” ujar Bryan lagi. “Aku gak bermaksud ngembentak
kamu, aku gak nyalahin kamu juga kok soal masalah itu, wajar aja jika kamu
marah sama keluargaku atas hal itu” Bryan menjelaskan segalanya panjang lebar
namun Alicia tetap tak bergeming, Alicia malah pergi tanpa sepatah katapun.
“Sya,,
tunggu,,,” Bryan mencoba mengejar Alicia, tiba-tiba “BRUKKKK…!!!!” kejadian
yang sama seperti waktu Bryan mengejar Alicia waktu di danau dulu, namun kali
ini dengan korban yang berbeda. Bryan terlempar jauh, sebuah truk besar telah
menabraknya, perlahan darah segar mengalir dari pelupuk mata, hidung, telinga,
kepala dan bagian tubuh lainnya. Alicia begitu terkagetnya saat dia melihat kearah
Bryan yang tadi sempat memanggilnya.
“BRYANNNN”
Alica berteriak histeris sambil berlari kearah Bryan yang sudah tergeletak
bersimbah darah di jalanan. “Bryan,,,bangun….maafin aku…” Alicia memeluk Bryan
sambil menangis sejadi-jadinya. Seragam SMA nya tampak kotor terkena bercak
darah tapi dia tak peduli. Bahkan panggilan teman-teman sekelasnya tak
dihiraukan.
“Sya,,,
kita bawa Bryan kerumah sakit sekarang” Deo mendesak dengan gusar.
Lima
menit kemudian Deo dan Alicia udah tiba di rumah sakit terdekat, Bryan langsung
masuk ruang UGD.Alicia tampak begitu gusar, raut kesedihan tergambar jelas di
wajah polosnya.Berkali-kali dia mendekati ruang UGD berusaha melihat keadaan
Bryan.Tiba-tiba dokter keluar dari ruang UGD.
“Gimana
Dok,,, ?” Tanya Alicia cemas
“Keluarganya
mana…?” Dokter itu bertanya kepada Alicia
“Mamanya
sedang dalam perjalanan kesini dok, saya sahabatnya. Bilang aja ke saya dok apa
yang terjadi sama Bryan??” ujar Alicia dengan nada tak sabar bercampur
kecemasan yang semakin menjadi.
“Bryan
harus menjalani operasi, tetapi sepertinya itu tidak akan banyak menolong,
karena kecelakaan ini menyebabkan sel kanker di otak Bryan semakin bertambah,
dan yah,, kita hanya bisa berusaha dan berdoa saja. Kami akan berusaha semampu
kami, tapi semuanya tergantung kehendak yang di atas” Jelas dokter panjang
lebar kemudian masuk kembali ke ruang UGD dan tak lama kemudian mereka keluar
dan membawa Bryan ke ruang operasi untuk menjalankan operasi.
“Kanker….”gumam
Alicia lirih sambil terduduk perlahan di lantai, tak lama kemudian terdengar
isak tangis Alicia.
“Sya,,,sorry
gue gak ngasih tau ini sama lo, karna Bryan mint ague ngerahasiain ini dari lo”
jelas Bryan sambil merangkul Alicia.
“Lo
kenapa gak, gak bilang sama gue, kalo Bryan punya kankerrrr….” Jerit Alicia
sejadi-jadinya.
“Sorry
Sya,,,,” ujar Deo lirih. Alicia mencoba untuk bangkit dan berjalan menuju ruang
operasi, namun tiba-tiba kepalanya terasa berat, pandangannya berkunang, dia
pingsan.
^_^
“Bryan……….”
Alicia berteriak histeris begitu dia siuman.Dia mengedarkan pandangan ke
sekelilingnya, tak seorangpun di ruangan itu.Alicia mencoba bangkit dari tempat
tidur dan berusaha melangkah keluar, walaupun masih lemah dan sempat jatuh
beberapa kali dia tetap bertekad melihat Bryan di ruang operasi.
“Dokter,,
gimana keadaan anak saya?” Tanya mama Bryan dengan penuh kecemasan, begitu
dokter yang menangani operasi Bryan itu keluar dari ruang operasi.
“Operasinya
berjalan lancar, tetapi pasien masih belum siuman, dan sel kanker di otak
pasien semakin berkembang, kami sudah berusaha semampu kami tetapi Tuhan yang
menentukan, saat ini kita hanya bisa berdoa dan menunggu sampai pasien keluar
dari masa kritisnya”. jelas dokter yang menangani operasi Bryan.
Alicia
menghentikan langkahnya mendengar penjelasan dokter tadi. Matanya berkunang, perlahan air mata keluar membasahi pipinya, Mama Bryan
yang melihat Alicia kemudian menghampirinya dan memeluk Alicia.
“Sabar
ya sayang,,, sekarang kita berdoa yang terbaik untuk Bryan” gumam mama Bryan
lirih sambil berusaha menahan tangis. Alicia tidak menjawab atau berkata
sepatah katapun, hanya tangis dan suara sesegukan yang terdengar.
^_^
Satu
minggu sudah Bryan menjalani masa perawatannya di rumah sakit, namun belum ada
tanda-tanda Bryan siuman. Matanya masih tetap terpejam dalam tidur
pesakitannya, wajahnya masih tampak pucat pasih, perban masih tertempel di
kepala, dan tangannya dan selang infus masih tetap setia menemaninya.
“Sya,,
pulang sekolah nanti gue mau ke rumah sakit, lo mau ikut” ajak Deo kepada
Alicia waktu mereka berpapasan saat masuk kelas jam pelajaran terakhir.
“Ia
Yo,, aku ikut..” jawab Alicia sambil tersenyum hambar.
Jam
pelajaran terakhir di isi dengan pelajaran Bahasa Inggris dan pelajaran
berjalan lancar, bel tiga kali berbunyi tanda jam pelajaran berakhir. Semua
siswa berhamburan keluar menuju parkiran dan pulang.
“Sya,,ayo,,,
“ ajak Deo sambil menggandeng Alicia.
“Aduuuuhhh,,
ilang Bryan sekarang sama sahabatnya, dasar cewek murahan” ujar Dara dengan
nada sinis saat berpapasan dengan Alicia dan Deo di parkiran mobil.
“Eh,,
lo jaga mulut lo!” bentak Deo geram.
“Dasar
biang masalah, lo gak tau apa-apa, lo seneng kan Bryan masuk rumah sakit, gue
udah tau Dara sifat picil lo! Emang itu kan mau lo, kalo lo gak bias dapetin
Bryan, Alicia juga gak bias. IYA KAN!!!” makian Deo semakin kasar.
“OMG,,,,,
Salsa,, lo liet deh, tega banget sih dia nuduh gue yang kayak gituu…” ujar Dara
dengan nada super centil pada Salsa si pengikut setianya.
“Heh,,,
gue gak nuduh lo! Karna gue udah kenal lo lama Dar,, gue curiga deh,
jangan-jangan kecelakaan Deo ini juga kerjaan lo!!” respon Deo sambil tersenyum
sinis. Perlahan wajah Dara berubah menjadi pucat.
“Enakkk
aja…! Udah yuk Salsa mending kita pulang, ga penting ngeladenin rakyat jelata!”
ujar Dara dengan nada agak gugup kemudian mereka masuk ke mobil dan pulang.
Lima
belas menit kemudian Deo dan Alicia tiba di rumah sakit tempat Bryan dirawat.
“Sya,
lo masuk aja duluan. Gue masih ada urusan…” pinta Deo lembut. Alicia hanya
mengangguk pelan kemudian keluar dari mobil dan segera menuju ruang dimana
Bryan dirawat. Alicia membuka pintu perlahan, tak ada seorang pun kecuali Bryan
yang sedang terbaring lemas ditempat tidurnya, tetapi betapa terkejutnya Alicia,
saat sebuah suara memanggil namanya. Suara itu terdengar lirih dan tak
bertenaga. Perlahan Alicia mendekati sumber suara itu.
Bryan
tersenyum tipis begitu Alicia menghampirinya, wajahnya tampak begitu pucat,
matanya masih tampak sendu tetapi senyum di bibirnya tetap manis tak berubah.
“Sya,,,
duduk..” pintanya pelan. Alicia tak mampu berkata apapun, ia hanya menuruti apa
yang diminta Bryan.
“Sya,,,,maafin
aku…” ujar Bryan lirih. Alicia masih tak berbicara, ia masih bertahan dalam
diamnya, perlahan Alica mengenggam tangan Bryan. Matanya berkaca-kaca tak mampu
menahan tangis yang telah begitu lama ditahannya.
“Bukan
kamu yang mestinya minta maaf,, tapi aku….” Ujar Alicia lirih. “Aku yang selama
ini telah mendatangkan banyak masalah di kehidupan kamu Bryan, bahkan aku masih
terus menyiksamu dengan sikap dingin dan marahku disaat kondisimu makin parah,
bahkan aku tak peduli dengan semua pengorbanan yang kamu lakukan untukku,
dengan sikap diammu dalam menyembunyikan kanker yang semakin membuatmu parah,
aku sama sekali tak tau dan tak peduli,,,aku memang tak punya hati..” ujar
Alicia sambil menangis sejadi-jadinya.
“Sya,,,udah
cukup. Lupain semua. Aku nggak pernah sedikitpun merasa marah dan tersiksa
dengan sikap kamu” ujar Bryan sambil menggenggam erat tangan Alicia. “Sya,, satu yang aku inginkan sebelum aku
pergi, aku ingin kamu bahagia di kehidupan kamu Sya,, jangan sedih lagi, aku
sayang banget sama kamu Sya, selama ini aku terlalu takut untuk mengungkapkan
perasaanku ke kamu” jelas Bryan sambil menatap Alicia sungguh-sungguh. “Tapi
sekarang, sebelum aku meninggal aku pengen kamu tau ini Sya, aku nggak berharap
kamu nerima cintaku karena itu hak kamu tapi setidaknya aku lega karena kamu
sudah tau semuanya, dan sekarang aku bisa pergi dengan tenang Sya,,” Bryan
berujar dengan nada suara yang semakin melemah. Tak ada sepatah katapun yang
terujar dari mulut Alicia, ruangan dan suasana terasa beku, yang ada hanya isak
tangis yang memilukan.
Perlahan
suasana ruang perawatan itu hening, kini tangan Bryan yang sedari tadi
menggenggam tangan Alicia dengan eratnya perlahan melemah dan jatuh terkulai,
yah,,, kini dia telah pergi meninggalkan raganya yang masih dalam pesakitan. Namun
rasa yang selama ini menjadi sebuah tanda Tanya besar bagi hari-hari Bryan kini
sudah tersampaikan, sebuah pesan hati yang hampir 6 tahun ini menjadi sebuah
rahasia besar telah terungkap, walaupun Alicia tak sempat memberikan jawaban
atas pesan itu, tetapi kini Bryan bisa pergi dengan tenangnya karena tak ada
lagi rahasia yang tertahan.
#SELESAI#
Komentar
Posting Komentar